Palestina Bantu Korban Gempa NTT, Solidaritas Dua Bangsa Kembali Terlihat Hubungan Indonesia dan Palestina kembali terlihat melalui jalur kemanusiaan ketika masyarakat Nusa Tenggara Timur menghadapi masa sulit setelah gempa besar mengguncang Pulau Flores. Kedutaan Besar Negara Palestina di Jakarta menyalurkan bantuan bagi warga terdampak gempa sebagai bentuk kepedulian kepada Indonesia, negara yang selama bertahun tahun dikenal konsisten memberikan dukungan politik sekaligus bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina.
Aksi tersebut memperoleh perhatian karena berlangsung ketika Palestina sendiri masih menghadapi berbagai kesulitan. Kedutaan Palestina menyatakan bantuan kepada masyarakat NTT membawa pesan persaudaraan bahwa kepedulian tidak semestinya berhenti pada batas wilayah ataupun keadaan sebuah bangsa. Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A K Alsattari menegaskan Palestina berdiri bersama masyarakat NTT dan seluruh rakyat Indonesia.
Gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar, merusak rumah dan fasilitas pelayanan, serta memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya. Hingga 29 Agustus, BNPB mencatat jumlah korban meninggal tetap 111 orang. Ribuan warga juga masih berada di pengungsian sementara aktivitas gempa susulan terus berlangsung.
Bantuan Palestina Datang Saat NTT Masih Berjuang Pulih
Kedutaan Besar Palestina mengumumkan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada masyarakat NTT pada akhir Agustus 2026. Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung kebutuhan warga yang sedang menghadapi kesulitan setelah gempa.
Kedutaan tidak mempublikasikan rincian lengkap mengenai nilai maupun seluruh jenis barang yang disalurkan dalam keterangan awal. Karena itu, bantuan ini lebih tepat dipahami melalui pesan kemanusiaan yang menyertainya, bukan dinilai hanya berdasarkan angka.
Abdalfatah A K Alsattari mengatakan ketika masyarakat menghadapi kesulitan dan bencana, terdapat tanggung jawab bersama untuk saling membantu. Ia menilai kepedulian Palestina kepada masyarakat Indonesia berasal dari nilai kemanusiaan yang dimiliki bersama.
Pernyataan tersebut mempunyai perhatian tersendiri karena selama ini hubungan Indonesia dan Palestina lebih sering terlihat dari arah sebaliknya. Pemerintah, organisasi kemanusiaan, kelompok masyarakat, lembaga keagamaan, dan warga Indonesia berkali kali mengirim bantuan untuk masyarakat Palestina.
Kini, ketika sebagian wilayah Flores mengalami kerusakan berat, Palestina mengambil posisi sebagai pihak yang mengulurkan bantuan.
“Menurut penulis, nilai terbesar dari bantuan ini berada pada sikap saling mengingat. Bangsa yang sedang menghadapi kesulitan sendiri tetap memilih menunjukkan kepedulian ketika sahabatnya mengalami bencana.”
Palestina Sudah Menyampaikan Belasungkawa Sejak Hari Pertama
Dukungan Palestina tidak baru muncul ketika bantuan disalurkan.
Pada 15 Agustus, Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina telah menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah serta rakyat Indonesia setelah kabar mengenai gempa Flores diketahui.
Pemerintah Palestina menyampaikan duka kepada keluarga korban meninggal dan berharap warga yang terluka dapat segera pulih. Palestina juga menyatakan dukungan kepada tim pencarian dan penyelamatan yang bekerja di lokasi.
Pernyataan itu disampaikan ketika jumlah korban masih terus berubah karena proses pencarian, evakuasi, dan pendataan berlangsung.
Beberapa hari setelahnya, skala kerusakan terlihat jauh lebih besar dibandingkan laporan awal.
Pada 21 Agustus, BNPB mencatat puluhan ribu rumah mengalami kerusakan. Sekolah, jaringan jalan, fasilitas kesehatan, listrik, dan komunikasi juga membutuhkan penanganan dalam jumlah besar.
Gempa M 7,7 Mengguncang Flores Saat Warga Masih Terlelap
Gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB.
BMKG memperbarui kekuatannya menjadi M 7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
Posisi gempa yang relatif dangkal membuat guncangan dirasakan kuat di banyak wilayah Flores.
BMKG mengidentifikasi sumber gempa berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik. Setelah gempa utama, aktivitas kegempaan tidak langsung berhenti. Ribuan gempa susulan terus tercatat dalam beberapa hari berikutnya.
Pada 30 Agustus, jumlah gempa susulan yang tercatat BMKG bahkan sudah mencapai 9.765 kejadian. Magnitudo terbesar dari rangkaian susulan mencapai M 6,2.
Banyaknya gempa susulan membuat sebagian warga belum berani kembali ke rumah, terutama mereka yang bangunannya mengalami kerusakan atau berada di kawasan yang masih dianggap rawan.
Peringatan Tsunami Sempat Dikeluarkan
Besarnya gempa membuat BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami.
Sejumlah wilayah pesisir NTT masuk kategori siaga, termasuk bagian utara Manggarai, Ngada, Manggarai Barat, Ende, dan Sikka. Wilayah di Sulawesi Selatan serta Nusa Tenggara Barat juga sempat mendapat status tertentu berdasarkan hasil pemodelan awal.
Gelombang tsunami kemudian tercatat di beberapa titik dengan tinggi yang berbeda.
Di Maurole, Ende, perubahan muka air tercatat mencapai sekitar 0,94 meter. Gelombang juga tercatat di Kewapante, Sikka, Labuan Bajo, dan sejumlah wilayah lainnya.
Peringatan tersebut akhirnya diakhiri setelah evaluasi dilakukan.
Namun, dalam beberapa jam pertama, warga pesisir harus menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni guncangan kuat serta kemungkinan gelombang laut.
Korban Bertambah Seiring Pendataan Lapangan
Pada beberapa jam pertama setelah gempa, jumlah korban yang dilaporkan masih relatif kecil. Angka tersebut meningkat seiring tim mencapai desa dan wilayah yang sebelumnya sulit diakses.
BNPB pada sore 15 Agustus mencatat 47 korban meninggal. Sehari kemudian jumlahnya meningkat menjadi 53 orang.
Pada 22 Agustus, angka korban meninggal telah mencapai 87 orang. BNPB juga mencatat 1.298 orang terluka dan lebih dari 150 ribu warga sempat tercatat berada di lokasi pengungsian berdasarkan pendataan saat itu.
Angka pengungsi kemudian berubah seiring proses verifikasi dan kepulangan sebagian warga.
Hingga 29 Agustus, korban meninggal tercatat 111 orang. BNPB menjelaskan tidak ada penambahan korban meninggal dalam laporan terbaru saat itu.
Perubahan angka selama penanganan bukan sesuatu yang tidak biasa dalam bencana besar. Tim harus mencocokkan nama, lokasi, kondisi korban, dan laporan dari berbagai kabupaten.
Puluhan Ribu Rumah Mengalami Kerusakan
Skala kebutuhan masyarakat NTT terlihat dari jumlah bangunan yang mengalami kerusakan.
BNPB pada 21 Agustus mencatat sekitar 45 ribu rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, lebih dari 17 ribu unit masuk kategori rusak berat, sementara ribuan lainnya tercatat rusak sedang dan ringan.
Manggarai Timur termasuk wilayah yang mencatat kerusakan rumah paling besar.
Kerusakan tempat tinggal menjadi persoalan besar karena keluarga tidak cukup hanya menerima makanan dan air selama beberapa hari. Mereka membutuhkan tempat berlindung yang aman sampai rumah dapat diperbaiki atau dibangun kembali.
Pada tahap seperti inilah bantuan dari berbagai pihak menjadi penting.
Barang yang dibutuhkan dapat berubah mengikuti fase penanganan. Pada awal bencana, kebutuhan biasanya berkaitan dengan makanan siap saji, air bersih, obat, tenda, selimut, matras, dan perlengkapan kebersihan.
Ketika situasi mulai lebih stabil, kebutuhan bergeser menuju hunian sementara, perbaikan rumah, fasilitas sekolah, layanan kesehatan, dan pemulihan kegiatan ekonomi.
Sekolah Juga Menghadapi Kerusakan Besar
Gempa tidak hanya merusak rumah warga.
BNPB mencatat lebih dari seribu sekolah terdampak, dengan ribuan ruang kelas mengalami kerusakan. Ratusan sekolah sempat meliburkan siswa, sementara sebagian menerapkan pembelajaran jarak jauh atau menggunakan ruang sementara.
Situasi ini membuat pemulihan pendidikan menjadi pekerjaan besar berikutnya.
Anak yang tinggal di pengungsian membutuhkan ruang belajar sekaligus lingkungan yang memberi rasa aman. Guru juga menghadapi persoalan pribadi karena sebagian dari mereka merupakan korban yang rumahnya turut rusak.
Pemulihan sekolah karena itu tidak hanya berhubungan dengan bangunan.
Perlengkapan belajar, buku, meja, jaringan listrik, air bersih, sanitasi, dan dukungan kepada guru perlu berjalan bersamaan.
Indonesia Sendiri Telah Mengirim Ratusan Ton Bantuan
Pemerintah Indonesia menggerakkan operasi logistik dalam jumlah besar sejak hari pertama.
BNPB membentuk Pos Pendukung Logistik Nasional dengan jalur utama dari Halim Perdanakusuma menuju Labuan Bajo dan Maumere.
Dalam periode 15 sampai 22 Agustus, sekitar 954 ton bantuan telah didistribusikan melalui puluhan penerbangan. Barang yang dikirim mencakup kebutuhan pangan serta perlengkapan seperti tenda, matras, selimut, dan genset.
Kapal TNI Angkatan Laut juga digunakan untuk membawa bantuan menuju wilayah yang lebih mudah dijangkau melalui laut.
KRI Bung Hatta, misalnya, mengangkut bantuan Presiden, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, dan donasi masyarakat menuju Kabupaten Manggarai.
Karakter kepulauan NTT membuat distribusi tidak dapat mengandalkan satu moda transportasi.
Pesawat, kapal, kendaraan darat, bahkan helikopter digunakan sesuai keadaan wilayah.
Bantuan Palestina Masuk dalam Arus Gotong Royong yang Lebih Luas
Bantuan Kedutaan Palestina hadir di tengah arus bantuan dari berbagai kelompok.
Masyarakat Indonesia, perusahaan, organisasi kemanusiaan, pemerintah daerah, kementerian, TNI, Polri, dan organisasi masyarakat mengirim bantuan dalam bentuk yang beragam.
Pada perayaan Kemerdekaan 17 Agustus, kegiatan Kesenian Rakyat yang digelar di beberapa lokasi bahkan berhasil menghimpun donasi sekitar Rp2,16 miliar untuk warga terdampak bencana NTT.
Pemerintah juga memilih mengingat korban ketika perayaan kemerdekaan berlangsung.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada 17 Agustus mengajak masyarakat tidak melupakan saudara di NTT yang sedang berduka meskipun perayaan Hari Kemerdekaan sedang berlangsung.
Masuknya bantuan Palestina menambahkan dimensi internasional pada gerakan tersebut.
Aksi itu menunjukkan bahwa hubungan antarmasyarakat tidak selalu berjalan satu arah.
Indonesia Memiliki Riwayat Panjang Membantu Palestina
Hubungan Indonesia dan Palestina memang memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada peristiwa gempa NTT.
Pemerintah Indonesia secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina serta penyelesaian konflik melalui solusi dua negara. Pada 2026, Menteri Luar Negeri Sugiono kembali menegaskan dukungan tersebut dalam pertemuan dengan Menteri Pembangunan Sosial Palestina Samah Hamad di Manila.
Dukungan tidak berhenti pada jalur diplomatik.
Indonesia juga menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui pemerintah, lembaga internasional, serta organisasi masyarakat.
Dokumen Kementerian Luar Negeri mencatat komitmen bantuan Indonesia antara lain diberikan kepada program kesehatan, air, pangan, serta perlindungan warga Palestina melalui lembaga internasional.
Pada Juni 2026, BAZNAS melalui KBRI Kairo juga menyalurkan daging kurban bagi warga Palestina di Mesir serta bantuan yang disiapkan untuk Gaza.
Hubungan tersebut membuat bantuan Palestina untuk NTT terasa sebagai balasan kepedulian dalam bentuk yang sederhana namun kuat.
Palestina Mengakui Dukungan yang Selama Ini Diberikan Indonesia
Kedutaan Palestina secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia ketika bantuan NTT diumumkan.
Mereka berterima kasih atas persahabatan dan dukungan yang terus diberikan kepada rakyat Palestina.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga sebelumnya menyampaikan penghargaan serupa kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam percakapan telepon pada Juni 2026, Abbas memberikan penjelasan mengenai keadaan Palestina sekaligus menyampaikan penghargaan atas dukungan Indonesia.
Hubungan diplomatik akhirnya mempunyai sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari hari ketika diwujudkan melalui bantuan kepada korban bencana.
Pembicaraan mengenai hubungan antarnegara tidak lagi hanya berlangsung di ruang konferensi atau pertemuan pejabat. Bantuan sampai kepada keluarga yang kehilangan rumah, membutuhkan makanan, atau tinggal sementara di tenda.
Solidaritas Tidak Perlu Menunggu Sebuah Negara Berada dalam Kondisi Sempurna
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah mengapa Palestina memberikan bantuan ketika masyarakatnya sendiri juga masih membutuhkan banyak dukungan.
Jawabannya terlihat dalam pesan Kedutaan Palestina.
Alsattari menekankan bahwa kepedulian kemanusiaan tidak dibatasi negara ataupun perbedaan. Palestina melihat kesulitan masyarakat NTT sebagai alasan untuk ikut membantu sesuai kemampuan yang dimiliki.
Bantuan kemanusiaan tidak selalu diukur melalui siapa yang memiliki sumber daya paling besar.
Sebuah negara atau kelompok masyarakat dapat memberikan bantuan dalam jumlah yang disesuaikan dengan kapasitasnya, sementara nilai lainnya hadir melalui perhatian dan kehadiran.
“Bantuan dari Palestina mengingatkan bahwa solidaritas bukan perlombaan mengenai siapa yang paling kuat. Kadang yang paling menyentuh justru ketika pihak yang juga memiliki beban memilih tetap berbagi.”
Gempa Susulan Membuat Warga Masih Membutuhkan Rasa Aman
Meskipun penanganan sudah berjalan lebih dari dua pekan, masyarakat Flores belum sepenuhnya kembali pada kehidupan sebelum gempa.
BMKG masih mencatat ribuan gempa susulan.
Hingga 30 Agustus pukul 05.00 WIB, sebanyak 9.765 gempa susulan telah terekam.
Bagi masyarakat, angka tersebut bukan sekadar catatan seismik.
Setiap guncangan yang terasa dapat kembali mengingatkan pada kejadian 15 Agustus. Warga yang rumahnya rusak juga harus mempertimbangkan keselamatan sebelum memutuskan kembali.
Karena itu, kebutuhan penyintas tidak hanya berkaitan dengan barang.
Informasi yang jelas mengenai kondisi gempa, keamanan bangunan, lokasi pengungsian, fasilitas kesehatan, serta rencana perbaikan rumah menjadi sama pentingnya.
Pemulihan Rumah Menjadi Pekerjaan Besar Berikutnya
Setelah jalan nasional, listrik, dan sebagian layanan komunikasi kembali berfungsi, perhatian mulai bergeser kepada tempat tinggal.
Pada 24 Agustus, BNPB mulai mempercepat kepulangan sebagian keluarga dari GOR Samador di Sikka setelah penilaian kondisi dilakukan. Sebanyak 84 kepala keluarga dijadwalkan kembali ke rumah pada hari tersebut sebagai bagian dari proses pemulihan hunian.
Namun, puluhan ribu rumah yang rusak membuat pekerjaan tidak dapat selesai dalam waktu singkat.
Rumah dengan kerusakan berat membutuhkan penanganan berbeda dari bangunan yang hanya mengalami kerusakan ringan.
Pendataan harus dilakukan dengan nama dan alamat yang jelas agar bantuan pembangunan dan perbaikan dapat diberikan kepada keluarga yang tepat.
Di sejumlah kabupaten, akses menuju desa juga menjadi tantangan tersendiri karena kondisi geografis Flores.
Solidaritas Dua Bangsa Kini Terlihat dari Arah yang Berbeda
Selama bertahun tahun, masyarakat Indonesia terbiasa melihat bendera Indonesia dan Palestina berdampingan dalam penggalangan bantuan untuk Gaza.
Kali ini arahnya berbeda.
Foto bantuan Kedutaan Palestina untuk NTT memperlihatkan simbol kedua bangsa hadir dalam aksi yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia.
Perubahan arah tersebut membuat peristiwa ini lebih dari sekadar pengiriman bantuan biasa.
Palestina yang selama ini menerima banyak dukungan dari masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa hubungan kemanusiaan dapat berjalan timbal balik.
Kedutaan Palestina menyatakan langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk mempererat hubungan persahabatan dan kerja sama kemanusiaan antara kedua pihak.
Di NTT, pekerjaan masih panjang. Rumah harus diperbaiki, sekolah perlu dipulihkan, keluarga korban membutuhkan pendampingan, sementara ribuan guncangan susulan terus dicatat.
Pada saat itulah bantuan dari berbagai arah, termasuk dari Palestina, menjadi bagian dari upaya menjaga warga Flores agar tidak menjalani proses pemulihan sendirian.
